Asner Silalahi: Pematangsiantar dalam kepastian

    0

    Pematangsiantar | Lensamedi.id – Hajatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Pematangsiantar sedang menjadi pembicaraan yang renyah di kalangan masyarakat Sumatra Utara khususnya warga Pematangsiantar. Pasalnya, pesta demokrasi yang dijadwalkan pada 9 Desember 2020 hingga kini masih hanya nama Asner Silalahi dan Susanti Dewayani yang muncul ke permukaan sebagai pasangan Bakal Calon (Balon) Wali Kota Pematangsiantar. Mata publik berasumsi bahwa pasangan yang maju dengan slogan ‘PASTI (Pasangan Asner dan Susanti)’ ini akan melawaan kotak kosong pada kontestasi Pilkada Pematangsiantar mendatang.


    Asumsi publik yang mengatakan bahwa mereka sepertinya akan menjadi Balon tunggal bukanlah tanpa alasan, ini dikuatan dengan dukungan dari delapan Partai Politik (Parpol) yakni, PDI-Perjuangan, Hanura, PAN, Demokrat, Gerindra, Golkar, Partai NasDem, dan PKPI. Kendati demikian, dukungan dari para Parpol raksasa itu tidak membuat Asner dan Susanti besar kepala “Politik itu labil, semua bisa terjadi. Dukungan Parpol ini kongkritnya setelah pendaftaran ke KPU pada 4 September mendatang,” ujar alumni SMA Negeri 1 Siantar itu saat diwawancarai oleh Pers Angkatan Bersenjata Kota Medan, Selasa (18/8/2020).


    Dilansir dari Tagar.id, sosok Asner sendiri dikenal sebagai seorang birokrat yang telah malang melintang dalam urusan pembangunan daerah tertinggal atau proyek nasional di beberapa daerah di Tanah. Pria kelahiran Kota Pematangsiantar 59 tahun silam itu tumbuh dan besar dalam keluarga sederhana. Ayahnya merupakan seorang PNS di Dinas Koperasi, sementara sang ibu adalah seorang guru sekolah dasar. Saat menjadi mahasiswa Fakultas Teknik Sipil Universitas Darma Agung Medan, Asner menjadi penulis lepas di harian Sinar Indonesia Baru (SIB) guna menambahkan biaya perkuliahannya.


    Setelah menyelesaikan kuliah, Asner bekerja sebagai konsultan konstruksi bangunan, yang awalnya dipercaya menangani pembangunan irigasi di Kabupaten Simalungun, kemudian dirinya melanjutkan karier ke Papua dan terlibat langsung dalam beberapa pembangunan proyek nasional bersama Kementerian PUPR. Salah satu proyeknya adalah pembangunan Jembatan Holtekamp yang meraih dua penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), yakni rekor pengiriman jembatan rangka baja utuh dengan jarak terjauh dan rekor pemasangan jembatan rangka baja utuh terpanjang di Tanah Air. Bukan hanya pengalamannya yang sangat diperhitungkan, sosok Asner memilii track record yang bersih dan selalu menjalin silaturahmi dengan kawan-kawannya.


    Saat ditanya mengenai apakah latar belakang dirinya maju di Pilkada Siantar 2020, Asner menjawab “Siantar ini sangat nyaman, kota toleran. Makanya walau saya tugas di Papua kalau ada waktu luang saya selalu pulang. Saya selalu rindu duduk di depan rumah ini dan mengenang masa kecil di Siantar. Itu selalu saya rindukan”. Sejak awal Asner mengaku tidak pernah berpikir untuk maju menjadi Wali Kota Pematangsiantar. Niat itu baru terbersit pada 2016, karena merasa terpanggil membangun kota kelahiran.
    Dengan tagline membangun infrastruktur yang andal, Asner berkata kemampuan, pengalaman dan jaringan yang dimilikinya ingin dia pergunakan membawa Pematangsiantar pada perubahan yang lebih baik.


    Maka, cukuplah keliru apabila Asner Silalahi dikatakan arogan ketika mendapat dukungan penuh dari delapan partai yang memiliki 30 kursi di DPRD di Kota Pemaatangsiantar, jelaslah alasannya karena trac record Asner yang sulit untuk diragukan. Asner mengatakan, keberhasilan mendapatkan rekomendasi dari delapan partai bukan karena besarnya finansial yang dimilikinya. Katanya, hal itu murni penilaian objektif partai.

    “Tidak benar karena itu. Uang, saya tidak banyak. Tidak mungkin dapat borong semua pakai uang. Saya punya cara pendekatan, serius mengikuti tahapan, punya visi misi membangun Siantar. Partai melihat kandidat dengan objektif tentunya,” terangnya.


    Magister tamatan Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya ini berharap masyarakat Siantar ikhlas untuk mengamanahkan pembangunan Kota Pematangsiantar pada kePASTIan (Pasangan Asner dan Susanti). “Sampai ke Papua sana saya bisa bangun kampung orang, masa kampung sendiri gak mampu saya bangun?” Tutupnya. (Ndy).

     627 total views,  1 views today