DEPENAS SBNI Gelar Diskusi Publik tentang Nilai- Nilai Pancasila dalam Gerakan Buruh

0

Depok – Dewan Pengurus Nasional (DEPENAS) Serikat Buruh Nasional Indonesia (SBNI), menggelar Diskusi Publik dengan tema Implementasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Gerakan Buruh Indonesia di Coffe Toffe Margonda Depok pada Jumat (30/9/2022)

Kegiatan Diskusi Publik tersebut dihadiri oleh DEPENAS SBNI, Buruh dan Serikat Pekerja se Jabodetabek, dalam kegiatan tersebut dinarasumberkan Prof. Yudhie Haryono (Direktur Nusantara Centre), Andito (Ketua Umum SPASI), Adhi Darmawan (Pegiat Perburuhan) dan M Yusro Khazim (Ketua Umum SBNI).

Dalam pemaparannya, Ketua Umum Depenas SBNI, M Yusro Khazim menyampaikm bahwa, SBNI akan menjawab tantangan zaman yang ada dengan reorientasi gerakan buruh. Karena buruh akan dihadapkan dengan digitalisasi industri atau revolusi industri 4.0.

“Maka, harus menyiapkan SDM agar kemungkinan perubahan zaman yang cepat ini bisa beradaptasi dan memperjuangkan cita cita buruh yang besar seperti memiliki saham pada pekerjaannya.” Ucap Yusro

Semangat yang kita perjuangkan juga harus ditanamkan dengan nilai nilai pancasila, bagaimana kita membangun kualitas, bukan kuantitas

Selanjutnya, Prof. Yudhie Haryono selaku Direktur Nusantara Centre, menyampaikan bahwa Pancasila bisa teralisasi diburuh jika buruh memiliki saham pada pekerjaannya dengan membentuk usaha kolektif.

“Selama buruh tidak mengambil negara untuk menyelesaikan buruh maka tidak akan selesai masalah buruh. Maka harus memberikan 3 solusi yaitu Reclaim in the state, Making the education, dan Making curiculum” Tutur Yudi.

Yudi juga menambahkan, bahwa Pendidikan formal dan informal kita mengbasenkan dengan yg namanya pergerakan buruh, seperti pengrrtian sejarah dll mengenai buruh, itu tidak ada sama sekali.

“Maka, SBNI harus membuat Sekolah Perburuhan Nasional agar membuat solusi dari masalah yang ada, membuat curiculum tentang perburuhan, agar paradigma negatif tentang buruh itu tidak ada” Tegas Yudi Haryono yang juga Direktur Nusantara Centre.

Selanjutnya, Adhi Darmawan selaku Pegiat Perburuhan, menuturkan bahwa Masalah kesehatan, kesejahteraan, pendidikan dan ketenagakerjaan, masalah yang paling besar ada di Indonesia, menurut survey CSIS masalah ketenagakerjaan tertinggi ke 2 di antara masalah masalah lain.

“Masalah lapangan pekerjaan juga menjadi isu yang harus diselesaikan, dengan data 9 juta pekerja migran, menjelaskan bahwa lapangan kerja di Indonesia itu kurang luas, dan pada akhirnya kesejahteraannya menjadi masalah” Kata Adi

Selanjutnya, Andito Ketua Umum SPASI, menyampaikan bahwa, Buruh dulu dan sekarang berbeda, buruh dulu terlokalisir dan punya isu bersama. Dan rata rata buruh sekarang banyak buruh yang kerah biru, karena masuk dalam era digital.

“Sebelum covid, hanya 12 % pekerja yang masuk serikat pekerja atau buruh, karena itu solusinya adalah buruh atau serikat buruh harus move on dari pola pikir perubahan atau gerakan buruh yang konvensional seperti mobilisasi massa dan lain lain, solusinya upgrade kapasitas buruh” Ucap Andhito.

Dengan membesarkan SDM buruh, bukan membesarkan serikatnya.
Buruh kalau masih mengandalkan gaji akan tertakar, karena itu harus membuat usaha lain, salah satunya koperasi, agar implementasi pancasila benar benar teralisasi.

 170 total views,  2 views today