Jadi Pembicara di Seoul, Megawati Berharap Persatuan Korsel dan Korut

0

LensaMedia.id – Presiden RI Kelima, Megawati Soekarnoputri, telah tiba di Seoul, Korea Selatan dalam rangka menghadiri sekaligus menjadi keynote speaker (pembicara kunci) di DMZ International Forum on the Peace Economy yang diadakan pada 28 – 29 Agustus. Pesawat Megawati tiba di Bandara Gimpo, yang terletak di ujung barat ibukota Korea Selatan itu, pada Senin (26/08/2019), sekitar pukul 20.30 waktu setempat.

Selain oleh wartawan, Kehadiran Megawati juga disambut oleh Dubes RI untuk Korea Selatan Umar Hadi bersama istri dan sejumlah stafnya.

“Saya memang boleh dibilang jadi langganan ya, kalau di sini ada pertemuan, ada konferensi, beberapa kali, karena memang juga, di sini artinya di Korut dan di Korsel, saya dikenal orang yang selain dari Indonesia tentu putrinya Bung Karno,” kata Megawati kepada wartawan di ruang VVIP Gimpo International Airport, Seoul, Korea Selatan, Senin (26/8/2019).

Selain dihadiri oleh Megawati, DMZ International Forum on the Peace Economy juga dihadiri oleh mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroder, mantan PM Jepang Yukio Hatoyama, Presiden pertama Mongolia Punsalmaagiin Ochirbat, serta beberapa tokoh penting lainnya dari Rusia, AS, dan Norwegia.

Megawati rencananya akan menjadi pembicara pertama yang menyampaikan pandangannya di forum itu. Forum yang diselenggarakan oleh The Korean Institute for International Economy Policy (KIEP) dan National Research Council for Economics, Humanities, and Social Sciences (NRC) itu mengusung tema “ekonomi damai dan kesejahteraan di Semenanjung Korea dan sekitarnya”.

Tiap berkunjung ke Korea, baik itu ke Korea Selatan maupun Korea Utara, Megawati selalu berharap agar kedua negara yang pecah ini kembali bersatu. Megawati mencontohkan seperti Jerman, yang dulunya sempat pisah, namun akhirnya berhasil bersatu kembali karena didorong semangat kekeluargaan.

“Karena apapun tidak hanya persoalan politik saja, tapi ini masalah kekeluargaan yang dipecah sedemikian rupa akibat politik. Sehingga tentunya, saya sangat yakin mereka akan menjadi satu negara kembali. Mungkin nanti satu negara dua sistem, karena kalau kita lihat kan Jerman akhirnya bisa bersatu, yang pada waktu itu rasanya tidak mungkin. Saya kira itulah basic-nya saya diundang kembali,” ujarnya.

Megawati melihat, betapa sejarah telah menunjukkan bagaimana politik adu domba telah memecah belah Jerman dan Korea. Hal inilah yang kemudian mengingatkannya pada pengalamannya dulu saat masih menjabat Wakil Presiden di era kepemimpinan Gus Dur. Ketika itu, dia berusaha menyelesaikan konflik di kawasan timur Indonesia demi menjaga keutuhan dan perdamaian NKRI.

“Kalau saya melihat sebenarnya kerapuhan baik Korea maupun Jerman, itu saya rasakan dan saya perhatikan, tentunya karena kita kadang sangat mudah untuk dipecah belah. Jadi kan saya mengalami sebagai wakil presiden pada waktu itu yang diminta oleh Gus Dur untuk menyelesaikan konflik di bagian timur. Sehingga saya dapat merasakan bahwa sebenarnya rakyat sendiri sering kali sangat tidak mengerti mengapa bisa terjadi seperti itu,” ujar Megawati.

Lantas Megawati menyimpulkan, kunci dari persatuan suatu negara terletak pada kebesaran hati para elit – elit pemimpinnya. Seorang negarawan yang baik seharusnya mampu menjunjung tinggi semangat persaudaraan dalam menyelesaikan konflik apapun.

“Jadi berarti sebenarnya ini kembali yang namanya yang harus sangat menentukan itu adalah yang disebut kalangan elite itu. Kalau kalangan elitenya dapat segera mengambil ruang-ruang yang sangat memungkinkan untuk persatuan, untuk persaudaraan, saya kira itu dapat menyelesaikan persoalan,” imbuhnya. (Red)

 167 total views,  1 views today