PT Tiran Indonesia Langgar Aturan Kuota Ekspor Nikel

0
Ilustrasi

Lensa Media – PT Tiran Indonesia yang beroperasi di Desa Lameruru Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara dituding melanggar aturan dalam pengiriman ore nikel ke luar negeri (Ekspor). Tudingan ini diungkapkan oleh Ketua LSM Lembaga Pemerhati Tambang (Lempeta) Konut, Ashari. Selasa (13/8/2019)

Ashari juga menyebut, PT Tiran membeli cargo ore diluar IUP nya untuk memenuhi target ekspor yang diberikan Kementerian ESDM. Lalu mengangkut ore nikel hasil produksi PT Astimah Konstruksi (Askon) yang tidak lain kontraktor mining di konsesi IUP PT Makmur lestari Primatama (MLP). Selain itu, PT Askon juga join operasional di PT Masempo Dalle.

“Transaksinya sangat rapi di mana pengangkutan dan penjualan dilakukan dengan cara mendatangkan kapal tongkang ke jety PT MLP. Kemudian pemuatan dan bongkar di armada vessel milik PT Tiran. Saat ini vesel tersebut masih berlabuh diperairan Molore tepatnya di depan jety PT Tiran. Semoga saja Syahbandar molawe termasuk pihak Bea Cukai tidak main mata,” kata Ashari

Menurutnya, dugaan tersebut makin mencuat adanya praktek mafia pertambangan yang dilakukan antara PT Tiran dan PT Askon di Bumi Oheo, karena PT Tiran diduga membeli ore nikel di luar IUP konsesinya.

“Mereka tak bisa memenuhi kuota ekspor yang sudah diberikan. Makanya dengan cara itu mereka buru setoran dengan membeli cargo dari luar IUP mereka. Mestinya Quota ekspor PT Tiran dapat terpenuhi. Bukan malah sebaliknya, mengunakan cara-cara mafia untuk mengejar target kuota,” bebernya.

Untuk itu, Ashari mendesak, Kementerian ESDM, Gubernur Sultra dan penegak hukum lainnya untuk melakukan evaluasi atas penerbitan izin kuota ekspor milik PT Tiran karena dianggap melanggar Permen ESDM nomor 6 tahun 2017 tentang tata cara pemberian rekomendasi izin ekspor.

 502 total views,  1 views today