TINGGALKAN DEBAT WALAUPUN DALAM POSISI YANG BENAR

    0

    oleh : Arino Ridiansyah

    Dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahu/anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    أنا زعيمٌ ببَيْتٍ في رَبَضِ الجَنَّةِ لِمَن ترَك المِراءَ وإنْ كان مُحِقًّا، وببَيْتٍ في وسَطِ الجَنَّةِ لِمَن ترَك الكَذِبَ وإن كان مازحًا، وببَيْتٍ في أعلى الجَنَّةِ لِمَن حسُنَ خُلُقُهُ

    “Aku menjamin rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan debat walaupun ia benar. Dan aku menjamin rumah di tengah surga, bagi orang yang meninggalkan dusta ketika bercanda. Dan aku menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang akhlaknya baik” (HR. Abu Daud no. 4800)

    MENGALAH lebih baik, Maksud “mengalah” pada maksudnya adalah segera meninggalkan debat kusir tersebut. Dunia internet dan media sosial merupakan sarana yang mudah untuk berdebat. Perlu diketahui bahwa berdebat khususnya debat kusir sangat merugikan apabila kita lakukan. Terutama di media sosial, walaupun kita sudah berniat berdiskusi dengan baik akan tetapi diskusi di internet dan media sosial tetap sangat sulit dilakukan.

    Mengalah dari debat kusir, karena “kita tidak akan bisa menang debat melawan orang yang bodoh dan tidak beradab“.

    Mengalah dalam debat, sebagaimana sebuah ungkapan:

    وما جادلني جاهلٌ إلا وغلبني

    “Tidaklah aku mendebat orang bodoh, pasti aku akan kalah”

    Berdebat (apalagi di media sosial) menimbulkan banyak kerugian.

    Prinsip penting dalam dakwah adalah: sampaikan kebenaran, jika diterima Alhamdulillah, jika tidak maka tidak mengapa. Tidak perlu masuk dalam perdebatan apalagi harus memaksakan.

    Kita hanya bertugas menyampaikan, sementara Allah jua-lah sang pemberi hidayah terhadap hamba Nya yang Dia kehendaki.

     854 total views,  1 views today