Viral, Beredar Video Warga Adu Mulut Dengan Aparat.

    0

    lensamedia.id – Oh wabah virus corona, mengapa ada saja yang membuat orang melarat kian melarat. Dalam keadaan normal saja sulit mencari penghidupan. Harus berjuang mengukur jalan. Apalagi ada wabah begini. “Bagaimana Nasib Kami, Pak?” Seperti beredar video whatsapp adu mulut antara warga dengan aparat. (07 APril 2020)

    Dalam video tersebut, tampak warga yang kesal dan beradu mulut dengan petugas aparat. Lalu siapa yang bertanggung jawab? Perihal ini?

    Apakah nasib orang miskin harus lenyap karena virus corona suatu ketika? Entahlah. Bagi kami penyakit apa pun bisa membuat kami mati. Kolera, demam berdarah, types, malaria, dan lainnya karena memang biaya berobat mahal. Kalau dahulu ada BPJS yang diperuntukkan bagi warga miskin, sekarang sangat sulit pengurusannya.

    Jadi bagi yang miskin, sepertinya tak boleh sakit. Kalau mau mati, mati saja. Padahal Undang Undang Dasar telah mengatur. Fakir miskin dan anak yatim dipelihara oleh negara. Seharusnya, dalam hal ini aparat harus melakukan pendekatan persuasif. Karena, berkaitan dengan masyarakat mencari nafkah.

    Jangankan akan dipelihara, untuk berjualan di pinggir jalan saja setiap hari harus main petak umpet dengan petugas ketertiban umum. Tak sekali dua lapak, rombong dagangan diangkut tak berperikemanusiaan. Malah sepertinya lebih hina dari sampah. Sampah saja boleh berserakan di jalan tak dibersihkan. Sementara kami tak mengemis, kami hanya mencari sesuap nasi untuk anak istri. Bagaimana ini?

    Lalu kalau lockdown diberlakukan seperti apa jalan keluarnya? Haruskah kami meminta-minta ke tetangga agar bisa makan? Dalam batas waktu yang tidak ditentukan.

    Orang kaya dengan mudah menganggap kami tak peduli wabah corona. Kami semua tak ada yang memakai masker, karena memang tak sanggup membeli masker. Mereka memandang sambil mencibir, padahal kami bukan penyebab datangnya corona di negeri ini. Kelompok orang kayalah yang pelesiran enak-enakan. Sementara kami menanggung akibatnya.

    Sementara aparat pemerintahan meyakinkan akan menyediakan ruang isolasi bagi penderita corona? Memangnya jika virus corona menyebar pada kami, masyarakat miskin ini akan dideteksi?

    Mendeteksinya dari mana? Jangankan hanya deman dan batuk, yang lebih parah dari itu kami dibiarkan saja. Banyak tetangga yang lumpuh lemas karena penyakit tumor, kanker, kurang gizi, tergeletak kesana kemari mencari donasi.

    Saya tak benci pada mereka yang kaya. Nasib baik telah mengelilinginya secara turun temurun. Kami juga miskin, nasib jelek menjadi sahabat kami secara turun temurun.

    Demikian juga kami yakin, pemerintah memiliki orang pintar. Negarawan yang peduli keselamatan rakyat ini. Menyejahterakan rakyat bekerja hampir 24 jam dalam sehari. Tolong kali ini perhatikan kami.

    Kami rakyat negeri ini juga punya hak atas sekehatan, atas keselamatan, atas kesekahteraan. Jika ada yang mengatakan kami miskin karena kurang pendidikan, kami akui. Bagaimana akan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, jika akses terbatas untuk kami.

    Jika ada yang mengatakan kami miskin karena malas. Kami tidak malas. Bahkan sebelum orang kaya terbangun, kami telah bertarung melawan dinginnya malam. Melawan panasnya terik matahari.

    Lalu apa yang kami dapatkan? Yang kaya terus saja semakin kaya dan menikmati seluruh fasilitas yang ada. Sementara kami yang miskin hanya melongo melihat mereka. Semakin hari himpitan hidup semakin membuat kami susah bernapas lega.

    Maka dari itu, kalau Lockdown bagaimana nasib kami, Pak? Pertanyaan ini untuk semua pihak yang berkepentingan di negeri ini. Termasuk orang kaya yang begitu takut karena virus corona. Carikan kami solusi agar kami bisa hidup dan makan hingga esok pagi saja

     522 total views,  1 views today